logo

Hubungi
Dibagikan:08 August 2017

Jauh Dari Laut Desa Jono Menajdi Penghasil Garam

Jauh Dari Laut Desa Jono Menajdi Penghasil Garam – Sekilas tiada yang membedakan Desa Jono, Kecamatan Tawangharjo, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, dengan keadaan geografis desa yang lain.

Tetapi, di seantero Kabupaten Grobogan, Desa Jono telah di kenal jadi sentra pembuatan garam. Sumber mata air setempat merasa asin hingga oleh warga digunakan untuk membuat garam.

Meski cuma ada satu tempat yang spesial jadikan object untuk buat garam di Desa Jono, kehadiran banyak petani garam di area ini mengundang tanda bertanya besar karna tempat Kabupaten Grobogan bertempat jauh dari lautan.

Siang itu, sinar matahari saat menyengat kulit, di hamparan kosong yang luas itu beberapa petani garam berjibaku mengolah garam.

Ada beberapa puluh petak tanah yang semasing diisi satu keluarga petani garam dengan sistem produksinya. Satu petak punya semasing itu memiliki ukuran sekitaran 80 mtr. x 6 mtr..

Sistem untuk membuat garam di Desa Jono dijalankan dengan tradisionil dengan perlengkapan apa yang ada.
(Baca juga : ” Bingung, Garam Kok Dapat Langka. . . ” )

Uniknya, supply air asin jadi bahan paling utama pembuatan garam didapat dari sebagian sumur yang telah ada di tempat itu.

Semula nampak sebagian titik sumber mata air asin di satu tempat itu sampai pada akhirnya dibuatkan sumur jadi wadah.

Selain merasa asin, air sumber itu juga panas mendidih. Air asin dari sumur lalu dialirkan lewat pipa menuju satu bak penampungan yang di buat seperti kolam.

Air dari bak penampungan itu seterusnya ditimba serta diisikan kedalam klakah (batang bambu yang dibelah jadi dua) . Klakah-klakah yang telah terisi air seterusnya dijemur dibawah sinar matahari sampai membuat kristal-kristal garam.

Sistem pembuatan garam sampai pengeringannya memerlukan saat 10 hari sementara musim kemarau. Belumlah ada histori pastinya yang katakan kapan pembuatan garam berjalan di Desa Jono.

Meski sekian, warga yakin pembuatan garam yang turun temurun itu telah ada mulai sejak beberapa ratus th. yang lalu. Berdasar pada narasi yang mengedar di warga, kemunculan sumber mata air asin serta panas di Desa Jono erat hubungannya dengan legenda ” Jaka Linglung ” .

Konon, sumber mata air itu terjadi karena menyembulnya Jaka Linglung dari dalam bumi. Sumber mata air itu terkait dengan lubang jalan pulang Jaka Linglung dari laut selatan menuju Kerajaan Medang Kamulan sesudah berhasil menundukkan Prabu Dewata Cengkar.

Jaka Linglung yang disebut putra Ajisaka diutusnya membunuh Prabu Dewata Cengkar yang sudah beralih jadi buaya putih di Laut Selatan. Dalam perjalanan itu, Jaka Linglung jalan di perut bumi dengan menjelma jadi seekor ular naga.

” Jaka Linglung keluar dari dalam tanah serta beristirahat sesaat di Desa Jono. Nah di situlah nampak sumber mata air yang lalu di buat sumur serta digunakan untuk buat garam. Pembuatan garam telah ada mulai sejak beberapa ratus th. kemarin. Dahulu th. 1960, jumlah petani garam ada beberapa ratus orang, saat ini cuma tersisa 50 keluarga, ” kata Asrul (70) , petani garam Desa Jono, saat didapati, Senin (7/8/2018)

Share